Rabu, 06 April 2011

TUGAS PORTOFOLIO 6 APRIL 2011

SOAL

Atun (tabungan; 10%; harian)
4/3 setor tunai 10 Jt
8/3 pinbuk debet 15 Jt
18/3 pinbuk kredit deposito Totok 4 Jt
25/3 pinbuk kredit tabungan Joko 8 Jt
29/3 pinbuk debet Giro Tutik 2 Jt
30/3 pinbuk lredit cek Ani (Bank Karman) 5 Jt





Kasus

1. Portofolio ¼
2.Biaya Deposito ? dan Biaya Kredit?
3.Profit?
4.Hasil Kliring

Notes : Tab (10%), Deposito (12%), Giro (8%)



JAWABAN :

PORTOFOLIO SITI 1/4

4/3 10 Jt Debet Kas
Kredit Tabungan Atun
8/3 5 Jt Debet Tabungan Atun
Kredit Giro Atun
18/3 9 Jt Debet Deposito Totok
Kredit Tabungan Atun
25/3 17 Jt Debet Tabungan Joko
Kredit Tabungan Atun
29/3 15 Jt Debet Tabungan Atun
Kredit Giro Totok
30/3 20 Jt Debet R/K pada BI
Kredit Tabungan Atun
















Senin, 07 Maret 2011

Penalaran

A. PENDAHULUAN
Pengertian penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.
Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence).
Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi.
B. PEMBAHASAN
Ada dua jenis metode dalam menalar yaitu induktif dan deduktif.
Metode induktif
Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum.
Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti.
Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif.
Metode deduktif
Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Contoh: Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.
Konsep dan simbol dalam penalaran
Penalaran juga merupakan aktivitas pikiran yang abstrak, untuk mewujudkannya diperlukan simbol. Simbol atau lambang yang digunakan dalam penalaran berbentuk bahasa, sehingga wujud penalaran akan akan berupa argumen.
Kesimpulannya adalah pernyataan atau konsep adalah abstrak dengan simbol berupa kata, sedangkan untuk proposisi simbol yang digunakan adalah kalimat (kalimat berita) dan penalaran menggunakan simbol berupa argumen. Argumenlah yang dapat menentukan kebenaran konklusi dari premis.
Berdasarkan paparan di atas jelas bahwa tiga bentuk pemikiran manusia adalah aktivitas berpikir yang saling berkait. Tidak ada ada proposisi tanpa pengertian dan tidak akan ada penalaran tanpa proposisi. Bersama – sama dengan terbentuknya pengertian perluasannya akan terbentuk pula proposisi dan dari proposisi akan digunakan sebagai premis bagi penalaran. Atau dapat juga dikatakan untuk menalar dibutuhkan proposisi sedangkan proposisi merupakan hasil dari rangkaian pengertian.
Syarat-syarat kebenaran dalam penalaran
Jika seseorang melakukan penalaran, maksudnya tentu adalah untuk menemukan kebenaran. Kebenaran dapat dicapai jika syarat – syarat dalam menalar dapat dipenuhi.
• Suatu penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang akan sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang salah.
• Dalam penalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah premis. Jadi semua premis harus benar. Benar di sini harus meliputi sesuatu yang benar secara formal maupun material. Formal berarti penalaran memiliki bentuk yang tepat, diturunkan dari aturan – aturan berpikir yang tepat sedangkan material berarti isi atau bahan yang dijadikan sebagai premis tepat.


Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran

PERBEDAAN KARANGAN IMIAH, SEMI ILMIAH DAN NON-ILMIAH

PERBEDAAN KARANGAN IMIAH, SEMI ILMIAH DAN NON-ILMIAH
A. Pendahuluan
Menulis karangan sama juga dengan mencurahkan ide atau gagasan yang ada dalam pikiran kita. terdapat tiga golongan karangan, diantaranya adalah karangan ilmiah, semi ilmiah dan non ilmiah. dalam tulisan kali ini penulis ingin membahas tentang perbedaan serta ciri-ciri dari masing-masing karangan.
B. Pembahasan
1.) Karangan ilmiah
Karangan ilmiah adalah karangan yang berisi tentang fakta-fakta umum yang ditulis dengan menggunakan metodologi yang telah ada serta penulisan yang benar. ciri-ciri dari karangan ilmiah ini diantaranya adalah:
- objektif
- tidak bersifat persuasif, artinya adalah penulis tidak mengajak pembaca untuk setuju dengan tulisan yang dibuatnya. bisa juga pembaca mengomentari atau mengoreksi isi dari tulisan tersebut.
- tidak melebih-lebihkan, penulis membuat karangan ilmiah ini harus dibuat sesuai dengan data dan fakta yang ada di lapangan.
- sitematis
- tidak dibuat untuk mengejar keuntungan pribadi
contoh karangan ilmiah diantaranya adalah skripsi, tesis, disertasi, makalah.
2. Karangan Non Ilmiah

Karangan non ilmiah sangat bervariasi topic dan cara penyajiannya, tetapi isinya tidak didukung fakta umum, ditulis berdasarkan fakta pribadi, umumnya bersifat subyektif, gaya bahasanya bias konkret atau abstrak, gaya bahasanya formal dan popular.

Karangan non ilmiah bersifat:

1. Emotif : kemewahan dan cinta lebih menonjol, tidak sistematis, lebih mencari keuntungan dan sedikit informasi.
2. Persuasif: penilaian fakta tanpa bukti. Bujukan untuk meyakinkan pembaca, mempengaruhi sikap cara berfikir pembaca dan cukup informative.
3. Deskriptif : pendapat pribadi, sebagian imajinatif dan subjektif.
4. Kritik tanpa dukungan bukti.
3.) Karangan semi ilmiah
Selain karya ilmiah dan nonilmiah yang telah disebutkan di atas, terdapat juga karangan yang berbentuk semi-ilmiah/ilmiah populer. Sebagian ahli bahasa membedakan dengan tegas antara karangan semi-ilmiah ini dengan karangan ilmiah dan nonilmiah. Finoza (2005:193) menyebutkan bahwa karakteristik yang membedakan antara karangan semi-ilmiah, ilmiah, dan nonilmiah adalah pada pemakaian bahasa, struktur, dan kodifikasi karangan. Jika dalam karangan ilmiah digunakan bahasa yang khusus dalam di bidang ilmu tertentu, dalam karangan semi-ilmiah bahasa yang terlalu teknis tersebut sedapat mungkin dihindari. Dengan kata lain, karangan semi-ilmiah lebih mengutamakan pemakaian istilah-istilah umum daripada istilah-istilah khusus. Jika diperhatikan dari segi sistematika penulisan, karangan ilmiah menaati kaidah konvensi penulisan dengan kodifikasi secara ketat dan sistematis, sedangkan karangan semi-ilmiah agak longgar meskipun tetap sistematis. Dari segi bentuk, karangan ilmiah memiliki pendahuluan (preliminaris) yang tidak selalu terdapat pada karangan semi-ilmiah.
C. Penutup
Dari uraian diatas, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa tiap karangan memiliki ciri tersendiri. Harapan penulis adalah agar pembaca dapat lebih mengetahui yang mana yang termasuk karangan ilmiah non-ilmiah dan semi-ilmiah.

sumber :
http://loetfie.blogspot.com/2010/05/perbedaan-karangan-non-ilmiah-semi.html
http://anisadeviana.blogspot.com/2011/02/perbedaan-karangan-ilmiah-karangan-non.html
http://makalahdanskripsi.blogspot.com/2009/07/karya-ilmiah-dan-non-ilmiah.html

Selasa, 25 Januari 2011

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil pembahasan dapat ditarik kesimpulan bahwa kinerja jasa yang di berikan oleh bank Mandiri sudah dinilai cukup memuaskan oleh nasabah. namun untuk aspek keresponisfan seperti dalam hal ketepatan dan kecepatan melayani nasabah, kemampuan dalam menyelesaikan pelayanan kepada nasabah, serta kejujuran dan keterbukaan pimpinan/staff dalam memberikan informasi dan pelayanan jasa bank perlu mendapatkan perhatian supaya nasabah tidak menunggu lama untuk melakukan transaksi jasa bank sehingga akan meningkatkan peran manajemen dalam menanggapi keluhan nasabah.
Perlu adanya upaya peningkatan kinerja jasa pelayanan agar kesnjangan atau keurangan dalam kualitas jasa pelayanan dan ketidakpuasan nasabah yang masih terjadi pada bank Mandiri dapat diminimumkan. analisi dan pengukuran kualitas jasa bank dapat pula diterapkan pada perusahaan jasa lainnya, sperti rumah sakit, penerbangan dan perusahaan jasa yang lain tentunya disesuaikan dengan sifat dan karakter perusahaan jasa yang bersangkutan terutama menyesuaikan daftar kuesioner dimensi kulaitas jasa.

BAB IV PEMBAHASAN

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penilaian tingkat kepentingan dan hasil penilaian kerja jasa maka akan dihasilkan suatu perhitungan mengenai tingkat kesesuaian antara tingkat kepentingan dan tingkat pelaksanaannya oleh perusahaan. Tabel 2 menunjukkan hasil penilaian tingkat kepentingan atas faktor-faktor indikator yang ada dalam setiap dimensi mutu.
Responden diminta untuk menilai seberapa besar tingkat kepentingan setiap faktor indikator yang ditanyakan yang dapat mempengaruhi keputusan mereka dalam memilih sebuah bank. dan menyajikan data hasil penilaian responden terhadap kinerja jasa pelayanan bank. dalam hal ini responden diminta melakukan penilaian terhadap kinerja jasa bank atas faktor-faktor indikator dimensi mutu yang sama seperti pada penilaian tingkat kepentingan.
Untuk mendapatkan nilai rata-rata atas penilaian tingkat kepentingan adalah dengan menjumlahkan hasil penilaian untuk tiap kepentingan tersebut dan membaginya dengan jumlah responden yaitu 97 orang. langkah perhitungan penilaian ini dilakukan untuk setiap indikator yang ada. sedangkan nilai rata-rata untuk setiap dimensi diperoleh dengan jalan membagi jumlah dari nilai rata-rata tiap faktor indikator dalam dimensi tersebut dengan jumlah faktor indikator yang ada dalam dimensi itu. untuk nilai rata-rata keseluruhan merupakan hasil dari pembagian jumlah dari rata-rata dimensi dengan jumlah dimensi. hasil perhitungan selengkapnya seperti pada tabel 2.

Tabel 2. Skor Penilaian Kinerja Jasa Pelayanan dan Skor Harapan Pelanggan
Tangibility Total Rata-rata Tangibility Total Rata-rata
1. T1 399 4.1 1. T1 423 4.4
2. T2 382 3.9 2. T2 399 4.1
3. T3 391 4.0 3. T3 395 4.1
4. T4 378 3.9 4. T4 397 4.1
5. T5 389 4.0 5. T5 405 4.2
6. T6 397 4.1 6. T6 412 4.2
Rata-rata 4.0 Rata-rata 4.2
Reliability Reliability
1. R1 376 3.9 1. R1 405 4.2
2. R2 388 4.0 2. R2 420 4.3
3. R3 400 4.1 3. R3 425 4.4
4. R4 378 3.9 4. R4 390 4.0
5. R5 389 4.0 5. R5 408 4.2
Rata-rata 4.0 Rata-rata 4.2
Responsiveness Responsiveness
1. Rs1 385 4.0 1. Rs1 409 4.2
2. Rs2 383 3.9 2. Rs2 392 4.0
3. Rs3 383 3.9 3. Rs3 392 4.0
Rata-rata 4.0 Rata-rata 4.1
Assurance Assurance
1. As1 357 3.7 1. As1 377 3.9
2. As2 359 3.7 2. As2 386 4.0
3. As3 375 3.9 3. As3 385 4.0
4. As4 363 3.7 4. As4 376 3.9
5. As5 366 3.8 5. As5 387 4.0
6. As6 385 4.0 6. As6 401 4.1
Rata-rata 3.8 Rata-rata 4.0
Emphaty Emphaty
1. E1 312 3.2 1. E1 361 3.7
2. E2 313 3.2 2. E2 369 3.8
3. E3 383 3.9 3. E3 382 3.9
Rata-rata 3.4 Rata-rata 3.8
Total Rata-rata 3.8 Total Rata-rata 4.1

Berdasarkan Data yang tercantum pada tabel 2, dapat diperoleh data kualitas jasa kepuasan pelanggan seperti tabel ini :

Tabel 3 Skor kualitas jasa dan skor kepuasan nasabah pada bank Mandiri
Dimensi Yang dirasakan Yang diharapkan Kualitas jasa Kepuasan nasabah

(1) (2) (1)-(2) (1) (2)

Tangibility 4.0 4.2 -0.2 95
Reliability 4.0 4.2 -0.2 95
Responsiveness 4.0 4.1 -0.1 97
Assurance 3.8 4.0 -0.2 95
Emphaty 3.4 3.8 -0.4 89
Total Rata-rata 3.8 4.1 -0.2 94


Berdasarkan tabel 3 diatas diketahui bahwa rata-rata kualitas jasa yang di capai bank Mandiri adalah -0,2 dengan service quality gap sebesar 0,2. service quality yang ideal adalah service performance sama dengan service expectation atau service performance dikurangi service expectation sama dengan 0.
Kualitas jasa -0,2 artinya service performance masih di bawah 0,2 dari service expectation . sedangkan untuk tingkat kepuasan nasabah sebesar 94% dengan kesenjangan kepuasan sebesar 6%, mengingat kepuasan nasabah yang ideal adalah 100%. dimana kontribusu terbesar dari kualitas jasa dan kepuasan nasabah adalah disumbangkan dari dimensi keresponsifan dengan masing-masing sebesar -0,1 dan 97%. hal ini menunjukkan bahwa tingkat kinerja jasa yang diberikan perusahaan relaif baik sesuai harapan nasabah.

Sabtu, 27 November 2010

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 jenis penelitian
Penelitian ini merupakan metode penelitian survey yaitu suatu penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dengan mengandalkan kuisioner sebagai instrumen pengumpulan data.
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya Sedang sampel adalah bagian dari jumlah dan karkateristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiono,2006:90).
Obyek penelitian ini adalah bank mandiri cabang galaksi di taman galaksi bekasi jawa barat. populasi dalam penelitian ini adalah sluruh nasabah bank mandiri. pengambilan sanmpel dilakukan dengan cara menggunakan kuesioner dengan skala likert 1-5. berdasarkan rumus estimasi proporsi dalam presisi mutlak maka besarnya sampel yang harus diambil dalam penelitian ini sebanyak 97 responden (Notoadmodjo,2002:21).
Analisis data dilakukan dengna menggunakan analisis performance important rating. yang memberikan gambaran tingkat kinerja jasa pelayanan (service performance), tingkat harapan nasabah (customer expectation). skala likert mempunyai garadasi dari positif sampai negatif yang terdiri dari :
- Baik Sekali (BS) : 5 (lima)
- Baik (B) : 4 (empat)
- Biasa (Bi) : 3 (tiga)
- Kurang (K) : 2 (dua)
- Kurang Sekali (KS) : 1 (satu).

3.2 Data dan Sumber data
Penelitian ini menggunakan data primer yang bersumber dari responden yang diambil melalui kuesioner yang disebarkan kepada nasabah bank mandiri cabang galaksi di bekasi.
3.3 Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa :

3.3.1 Data primer berupa kuisioner.
kuisioner Merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan memberikan atau menyebarkan daftar pertanyaan kepada responden dengan harapan memberikan respon atas daftar pertanyaan tersebut. Daftar pertanyaan dapat bersifat “terbuka”, yaitu jika jawaban tidak ditentukan sebelumnya oleh peneliti dan dapat bersifat “tertutup”, yaitu alternatif jawaban sudah ditentukan sebelumnya oleh peneliti. Sedangkan instrumen daftar pertanyaan dapat berupa pertanyaan (berupa isian yang akan diisi oleh responden), checklist (berupa pilihan dengan cara memberi tanda pada kolom yang disediakan) dan skala (berupa pilihan dengan memberi tanda pada kolom berdasarkan tingkatan tertentu).

3.3.2 Wawancara
Wawancara merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan berhadapan secara langsung dengan yang diwawancarai tetapi dapat juga diberikan daftar pertanyaan dahulu untuk dijawab pada kesempatan lain

3.3.3 Data sekunder berupa data yang berasal dari dokumentasi, buku-buku dan
jurnal-jurnal.


3.4 Teknik analisis data
teknik analisis data yang digunakan adalah uji validitas, uji realibilitas, analisis korelasi, dan analisis faktor dengan alat analisis SPSS versi 16.
uji validitas data berfungsi mengetahui derajat ketepatan data dari ahsil pengukuran sampel dengan konsep pengukuran.
uji reliabilitas adalah alat untuk mengetahui derajat kehandalan data dari hasil pengukuran sampel yang berguna untuk melihat konsistensi pengukuran.
menurut Trinton P>B (2006;248) apabila skala tersbeut dimasukkan kedalam lima kelas dengan range yang sama, maka ukuran kemantapan alpha dapat diinterpretasikan sebagai berikut:
Alpha Tingkat Reliabilitas
0.00 s.d 0.20 Kurang Reliabel
> 0.20 s.d 0.40 Agak Reliabel
> 0.40 s.d 0.60 Cukup Reliabel
> 0.60 s.d 0.80 Reliabel
> 0.80 s.d 1.00 Sangat Reliabel

Analisis korelasi digunakan untuk mengetahui pola dan keeratan hubungan antar dua atau lebih variabel. pada prinsipnya, prosedur korelasi bertujuan untuk mengetahui dua hal pada hubungan antar dua variabel:
1. apakah kedua variabel tersebut memang mempunyai hubungan yang signifikan.
2. jika terbukti hubungan (korelasi) signifikan, kemudian dapat diketahui bagaimana arah hubungan antara variabel dan seberapa kuat hubungan tersebut.
menurut jonathan sarwono (2006:167), untuk menafsir angka korelasi dapat dilihat sebagai berikut:
Angka korelasi Keterangan Korelasi
0.00 s.d 0.25 Korelasi sangat lemah
> 0.25 s.d 0.5 Korelasi cukup
> 0.5 s.d 0.75 Korelasi kuat
> 0.75 s.d 1 Korelasi sangat kuat

Menurut Singgih Santoso (2006:11) analisis faktor termasuk pada independence, yang berarti tidak ada variabel dependen ataupun variabel independen. proses analisis faktor mencoba menemukan hubungan (interrelationship) antar jmah variabel-variabel yang saling independen satu dengan yang lain, sehingga bila dibuat satu atau beberapa kumpulan variabel yang lebih sedikit dari jumlah variabel awal.

Rabu, 03 November 2010

METODE RISET

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Definisi Jasa
Menurut koetler (2009:83) “jasa adalah setiap tindakan atas perbuatan yang ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak bisa diraba atau tidak menghasilkan kepemilikan apapun, serta produksinya dapat atau tidak pada satu produk fisik.

2.2 karakteristik jasa
Karakteristik jasa menurut (koetler,1994:230) antara lain:
a. Tidak berwujud (Itangible)
Tidak dapat dilihat, dicicipi, dirasakan, didengar, atau dicium.
b. Tidak dapat dipisahkan (inseparability)
Jasa tidak dapat dipisahkan dari pemberi jasa itu, baik pemberi jasa itu adalah orang ataupun mesin. Jasa tidak dapat dijejerkan pada rak-rak penjualan dan dibeli oleh konsumen kapan saja dibutuhkan.
c. Keanekarupaan (variability)
Jasa ini sangat beranekarupa, karena tergantung kepada siapa yang menyediakannya dan kapan serta dimana disediakan.
d. Tidak dapat tahan lama (perishability)
Jasa ini tidak tahan lama, karenanya tidak dapat disimpan untuk penjualan atau penggunaan dikemudian hari.
Menurut (converse,1985:208), jasa dikelompokkan menjadi sebagai berikut: personalized service (personal service dan professional service), business service, financial service, public utility and transportation service, entertainment, hotel service.

2.3 Dimensi kualitas jasa
Menurut (lovelock dalam parasuraman. Zeithaml dan Berry, 1990:29) ada lima dimensi dalam menilai kualitas jasa yaitu :
1.) Wujud nyata (tangible)
Penampilan dan kemampuan sarana dan prasarana fisik harus dapat diandalkan, keadaan lingkungan sekitarnya adalah bukti nyata dari pelayanan yang diberikan penyedia jasa.
2.) Kehandalan (reliability)
Kehandalan adalah ketepatan dan kesesuaian sistem pelayanan dengan standar yang seharusnya.
3.) Ketanggapan (responsiveness)
Kehandalan adalah kesediaan, kesiapan dan kecepatan petugas dalam memberikan pelayanan.
4.) Jaminan kepastian (assurance)
Jaminan kepastian adalah keterampilan atau kemampuan atau pengetahuan yang memadai, sikap yang sopan dan bersahabat dan jaminan kemanan dari kemungkinan resiko dan bahaya yang dapat menimpa pelanggan.
5.) Empati (emphaty)
Empati adalah kemudahan pelanggan untuk menghubungi petugas, tingkat kejelasan dalam komunikasi dan tingkat pengertian perusahaan terjadap kebutuhan pelanggan.

2.4 Pemasaran Jasa
Pemasaran jasa lebih merupakan aktivitas pemasaran yang bersifat intangible atau tidak dapat dirasakan secar fisik. Dalam artian tidak dapat disentuh secara produk nyata atau immaterial. Disamping itu, produksi jasa cenderung dapat diperlukan lebih dapat dilakukan bersamaan dengan konsumen berhadapan dengan penjual (jasa atau petugas jasa). Dengan demikian maka pengawasan tentang mutu jasa atau kualitas jasa dapat dilakukan secara langsung letika jasa tersebut disampaikan.
Dalam hal pengawasan produk jasa memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengawasan terhadap produk nyata atau produk fisik. Dengan demikian maka faktor utama dari jasa adalah interaksi antara konsumen pemakai jasa dengan penjual jasa.
Pemasaran jasa merupakan upaya pemenuhan kebutuhan konsumen. Dengan demikian keberadaan konsumen sangat diutamakan dalam proses jasa. Konsep mengedepankan kepada konsumen merupakan bagian prinsip utama dalam perusahaan.